• (022) 8788 2588

sucidh (sucidh)

 

Bekerja sebagai jurnalis selama 10 tahun khususnya di media cetak nasional berkantor pusat di Jakarta . Berpengalaman dan gemar menulis khususnya untuk isu kesehatan, lifestyle, travel, seni dan budaya. Saat ini memutuskan menjadi ibu rumah tangga sekaligus freelance menulis untuk media online, blog pribadi maupun perusahaan.

  Hire Me
Make a Private Project


  Invite to Bid
Existing Projects


Display Name: sucidh
User Name: sucidh
Account Type: Personal Account
Date Registered: 23/08/2016 21:28:07 WIB
Provinsi:
Kabupaten:
Website:
Online Hours: 0.74
Projects Completed: 0
Current Projects: 0
Last Seen: 23/08/2016 22:18:12 WIB

Ratings & Rankings

As Worker
    
0.00/10.00
0 Point
#56,392 dari 67,628
0 Projects
As Owner
    
0.00/10.00
0 Point
#56,574 dari 67,628
0 Projects
As Seller
    
0.00/10.00
0 Point
#56,233 dari 67,628
0 Sales
As Affiliate
    
0.00/10.00
0 Point
#56,231 dari 67,628
0 Users

 

Services

 

No record found.

 

 

Products

 

No record found.

 

 

Portofolio

2014: Sesosok anak mengenakan kaos oblong berwarna coklat, berdiri sambil menyeringai. Kedua tangannya mengenakan boneka tangan anjing dan harimau yang tampak lucu. Satu-satunya yang tak lazim pada sosok anak laki-laki itu hanyalah topeng yang ia gunakan. Entah mengapa ia memilih karakter Hellboy yang dikenal sebagai anak reinkarnasi iblis, bukan karakter pahlawan tampan seperti Spiderman ataupun karakter komik lucu seperti Ninja Hatori.

Sementara itu, di sudut ruangan seorang anak laki-laki tampak duduk dengan santai diatas kotak putih. Ia juga mengenakan topeng berkarakter harimau tapi tak sampai menutupi wajahnya. Lagi-lagi ada yang tak lazim pada anak ini. Bukannya permainan mobil-mobilan atau pesawat yang ia pegang, melainkan celurit dan senjata api. Apa yang terjadi pada anak-anak ini?

Ya, setidaknya ada delapan figure anak-anak dan satu figure pria dewasa yang tampil dalam pameran tunggal keenam Abdi Setiawan di Rebbase Art Gallery, Ciputra World lantai 12, Jakarta, pada 30 Oktober hingga 30 November 2014. Hanya figure pria dewasa dengan pakaian seragam satpam itu saja yang tampak ‘normal’ bila dibandingkan figure anak-anak dalam pameran bertajuk The Future is Here itu.

2015: Artikel ini ditulis saat menjadi editor majalah seni dan budaya Sarasvati. Berkisah tentang seniman asal Yogyakarta, Bayu Wardana, saat residensi di Kota Tua Jakarta.

Bukan hanya lukisannya yang penuh ekspresi, tetapi pribadi Bayu sendiri juga. Kita tentu masih ingat saat Bayu melukis sembari memainkan alat musik favoritnya, piano, dengan penuh ekspresi tanpa kehilangan fokus pada lukisannya.

“Saya itu kalau sedang gemar sesuatu bisa sepanjang waktu tenggelam dalam aktivitas yang sama. Kalau lagi suka musik, ya bisa seharian main musik terus sampai lupa melukis. Tapi kalau lagi doyan melukis sehari bisa dua sampai tiga lukisan selesai,” katanya kepada Sarasvati.

2015: Perjalanan demokrasi di Indonesia kerap meninggalkan kisah-kisah menarik. Tidak saja bagi media massa tetapi juga para seniman. Wajar saja jika dinamika politik Indonesia dan pengaruhnya pada perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya masih menjadi wacana favorit kekaryaan para seniman Indonesia.

Pemilihan umum Presiden RI adalah salah satu proses demokrasi yang paling diminati. Tidak saja terkait sang calon tetapi juga bagaimana masyarakat merespon. Namun ada fenomena menarik yang berlangsung dalam proses pemilihan presiden di Indonesia belakangan ini, yakni keterlibatan sosial media dalam upaya menarik perhatian masyarakat.

Mendadak para calon memiliki akun media sosial mulai dari Facebook, Twitter, hingga instagram dan website pribadi untuk berkampanye menunjukkan ‘citranya’ sebagai pemimpin negara. Pemandangan itu jauh berbeda dari perjalanan pemilu-pemilu sebelumnya yang kerap diwarnai aksi protes dan kekerasan.

Perubahan inilah yang menarik minat sembilan seniman Indonesia yang berpameran bersama dengan tajuk FAD Democracy di Mizuma Gallery, Gillman Barracks, Singapore pada 27 Februari – 29 Maret 2015. Mereka adalah Agan Harahap, Faisal Habibi, J.Ariadhitya Pramuhendra, Mahardika Yudha, Narpati Awangga, R.Yuki Agriardi, Reza Afisina, Tisa Granicia, dan Wiyoga Muhardanto.

 

Peer Reviews as Worker

 

No record found.

 

 

Peer Reviews as Owner

 

No record found.