Sofanurdiyanti (Sofanurdiyanti)
Make a Private Project
Invite to Bid
Existing Projects

| User Name: | Sofanurdiyanti |
| Account Type: | Personal Account |
| Date Registered: | 07/07/2023 14:14:27 WIB |
| Last Seen: | 07/07/2023 15:50:13 WIB |
| Provinsi: | Jawa Barat |
| Kabupaten: | Kota Depok |
| Website: | nurdiyanti.wordpress.com |
| Online Hours: | 1.57 |
| Projects Won: | 0 |
| Projects Completed: | 0 |
| Completion Rate | - |
| Projects Arbitrated: | 0 |
| Arbitration Rate | - |
| Current Projects: | 0 |
Ratings & Rankings

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Sales

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Users
Services
No record found.
Products
No record found.
2012: Hanya 15 ribu rupiah per bulan, sumbangan sukarela orangtua murid yang dianggap mampu di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Swasta di pinggiran Muaro Jambi. Sumbangan yang tampak sepintas besar tapi sebenarnya mengiris hati. Nominalnya masih kalah jauh dari uang jajan harian siswa. Padahal, banyak orangtua atau wali murid dikenal sebagai pengusaha sukses di perkebunan sawit dan karet. Mereka tidak pernah (mau) tahu, sekolah itu tiap tahunnya merugi dan guru-gurunya harus rela digaji dengan ala kadar. Bersyukur, masih ada peluh para pendidik yang tidak mencari nominal rupiah, meski di luar sekolah gaduh oleh keluhan atas sumbangan sukarela.
Hanya segelintir siswa di sebuah SD di perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia yang sudah hafal lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Masih kalah populer dibandingkan dendang boyband-girlband Korea yang sudah masuk ke sana. Cukup satu detik untuk memancing satu nada pembuka sebuah lagu girlband yang menjadi soundtrack sinetron remaja tanggung, satu kelas melanjutkan nyanyian itu dengan sangat kompak! Tapi tidak dengan Indonesia Raya atau lagu wajib nasional lainnya. Kesabaran mengenalkannya rasanya seperti orang menari sambil bernyanyi, kemudian lompat-lompat, sambil memukul-mukul gendang di tengah hamparan gurun pasir. Atraktif, Lelah, dan terlihat sia-sia. Bersyukur, masih ada peluh pendidik yang mau bersabar berjam-jam melakukan itu, walau tanpa ada tanda jasa.
Hanya, dan banyak hanya kekecewaan bila ingin membeberkan banyak borok negeri ini. Tap bukan soal hanya' yang dicari di sini, melainkan bagaimana optimis dan bergerak setelahnya. Buku ini bukan sekadar rangkuman atas ribuan buliran peluh para pendidik yang merelakan usianya untuk memberikan yang terbaik dalam, terutama, dunia pendidikan di negeri ini, Gambaran ikhtiar merawat Indonesia coba diketengahkan dalam kisah nyata dan langsung di lapangan. Peluh-peluh yang harus kesepian di lokasi penempatan terus bekerja demi menawarkan kerinduan atas Indonesia yang lebih baik di hari esok.
2012: Man Jadda Wajada Series: Menjadi Guru Inspiratif
Guru yang baik itu bagai petani. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu, dan memupuk jiwa mereka dengan karakter yang luhur. Guru yang ikhlas adalah petani yang mencetak peradaban.
� A. Fuadi
Pendidikan adalah rumput, yang mengakar kuat ke dalam tanah dan gigih menahan serbuan angin. Dan guru jelas-jelas tidak sekadar pengajar, tetapi perantara sumber peradaban. Di tangannyalah, keajaiban ilmu pengetahuan berkembang dan melekat bagai pupuk di benak para anak didiknya.
Kisah-kisah dalam buku ini adalah bukti nyata, bahwa pendidikan tidak terbatas pada a,b,c,d � yang diteriakkan di dalam kelas. Tetapi bakti dan janji yang diberikan seorang guru yang berjuang membawa perubahan.
2014: Biografi ini berisi tentang perjalanan kisah hidup Pak Maryo sebagai pencipta lagu pada tahun 70-an.
No record found.
No record found.
Anda harus login terlebih dahulu untuk melihat data ini.
You must login first to see this data.

Loading ...
