Saya suka bercerita melalui tulisan. Saya bisa membuat cerita fiksi. Saya juga pekerja keras�
jenfitriana97 (jenfitriana97)
Make a Private Project
Invite to Bid
Existing Projects

| User Name: | jenfitriana97 |
| Account Type: | Personal Account |
| Date Registered: | 28/06/2026 23:18:07 WIB |
| Last Seen: | 28/06/2026 23:58:08 WIB |
| Provinsi: | Nusa Tenggara Timur |
| Kabupaten: | Kab. Manggarai Barat |
| Website: | |
| Online Hours: | 0.00 |
| Projects Won: | 0 |
| Projects Completed: | 0 |
| Completion Rate | - |
| Projects Arbitrated: | 0 |
| Arbitration Rate | - |
| Current Projects: | 0 |
Ratings & Rankings

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Sales

0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Users
Services
No record found.
Products
No record found.
2026: Lima Tahun, Masih Kita
Hari ini tepat lima tahun.
Di atas meja ada kue kecil dengan lilin angka "5" yang apinya goyang-goyang, sama kayak hati kami malam ini.
Aku menatap dia. Lelaki yang dulu janji setia, yang sekarang sering jadi orang asing di rumah sendiri.
Tiga tahun terakhir kami habiskan untuk saling melukai dengan kata yang gak diucapkan.
Tapi malam ini, entah kenapa, aku gak mau lilin itu padam sebelum aku bilang: "Makasih udah gak nyerah waktu aku nyerah sama kita.”
Malam itu aku masak sayur Lomak (Urap).
Sayur kesukaan dia yang selalu aku masak disaat ulang tahun pernikahan kami meski kami tak pernah merayakannya karena mungkin dia lupa akan momen penting itu.
Jam 7 malam, meja sudah rapi. Nasi anget, sambal ulek, jeruk nipis.
Jam 8, sudah tidak ada uap yang mengepul dari makanan yang aku sudah siapkan, bertanda makanannya sebentar lagi benar-benar dingin
Jam 9, aku masih duduk. Menatap makanan yang berlahan dingin.
Jam 11. Kunci pintu bunyi.
Dia masuk, buka dasi, gak liat ke arah meja. Langsung ke kamar mandi.
"Aku udah makan di luar," katanya singkat waktu aku nanya pelan.
Aku gak jawab.
Aku cuma ngangkat piring yang berisi makanan yang tadi kuduapkan. Satu sendok pun gak kesentuh.
Air keran aku buka sekenceng-kencengnya. Biar suara airnya nutupin suara isakanku.
Di kamar, kami tidur punggung-punggungan. Jarak 30 cm di kasur queen size, rasanya kayak samudra.
Aku bisik pelan, "Kamu masih mau sama aku gak?"
Dia diem. Terlalu lama diemnya.
Sampai akhirnya dia jawab, "Aku capek, Ng. Kita ngobrol besok aja."
Besok itu gak pernah datang. Yang datang cuma hari-hari yang isinya diam, kecewa, dan pertanyaan yang sama di kepala:
"Apa aku salah pilih orang? Apa dia masih pilih aku?”
Pagi itu aku bangun lebih dulu.
Dia masih tidur, alisnya berkerut kayak lagi berantem juga di mimpinya.
Aku ke meja rias. Ngambil buku diary kecil yang udah lama gak kubuka.
Halaman pertama: tanggal pernikahan kami, coretan tangannya "Sampai maut memisahkan".
Halaman tengah: list "Alasan aku nikah sama kamu" tulisanku sendiri waktu tahun pertama.
Nomor 3 nya: "Karena dia ketawa paling kenceng waktu aku cerita lelucon garing."
Aku sobek halaman itu. Lipet kecil. Selipin di dompetnya yang dia taruh sembarangan di meja.
Malamnya aku gak nungguin dia pulang. Aku tidur duluan. Capek pura-pura kuat.
Tengah malam, aku kebangun. Kasurnya agak goyang.
Dia duduk di pinggir kasur, punggungnya ngebelakangin aku. Di tangannya... kertas lipetan itu.
Lama dia diem. Terus dia balik badan. Matanya merah.
"Nomor 3 masih berlaku gak, Ng?" suaranya serak.
Aku ngangguk pelan. Air mata netes duluan sebelum kata keluar.
"Berlaku. Cuma aku capek ketawanya sendirian," jawabku.
Dia narik aku ke pelukannya. Kenceng. Kayak takut aku hilang.
"Maaf ya. Aku juga capek. Capek jadi suami yang bikin kamu kecewa terus."
Malam itu kami gak ngobrol panjang. Cuma pelukan.
Tapi pelukan itu ngajarin aku satu hal: rumah tangga gak hancur karena badai.
Hancur kalau gak ada yang mau jadi jangkar waktu badai datang.
Malam itu, aku milih jadi jangkarnya. Besoknya, gantian dia.
No record found.
No record found.
Anda harus login terlebih dahulu untuk melihat data ini.
You must login first to see this data.

Loading ...
