• (022) 6902 1117

Ahmad Royyan (AhmadRoyyan)

 

 

Hai

Perkenalkan nama saya Ahmad Royyan. Menjalani pendidikan S1 jurusan ilmu komunikasi di fakultas isipol UGM angkatan 2007. 

Pengalaman kerja, pernah bekerja untuk agensi branding sebagai copy writer dan sebuah media online sebagai content writer. Saat ini saya tengah bekerja pada sebuah perusahaan IT di Kota Bogor sebagai Account Manager. 

Saya terbiasa menulis artikel, jurnal, copy, dll. Di Projects.co.id saya mencari berbagai pekerjaan penulisan. Pada portofolio saya muat beberapa contoh artikel untuk konten sebuah agensi brand.

Terima Kasih Banyak.

Business Proposals Advertising Blog Copywriter Content Writer Canva

  Hire Me
Make a Private Project


  Invite to Bid
Existing Projects


User Name: AhmadRoyyan
Account Type: Personal Account
Date Registered: 05/07/2019 23:26:30 WIB
Last Seen: 04/07/2022 13:59:39 WIB
Provinsi: Jawa Barat
Kabupaten:
Website:
Online Hours: 50.40
Projects Won: 0
Projects Completed: 0
Completion Rate-
Projects Arbitrated: 0
Arbitration Rate-
Current Projects: 0

Ratings & Rankings

As Worker
    
0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects
As Owner
    
0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Projects
As Seller
    
0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Sales
As Affiliate
    
0.00/10.00
0 Point
No Ranking
0 Users

 

Services

 

No record found.

 

 

Products

 

No record found.

 

 

 

2019: - Manajemen Brand di Media Sosial -

“Content marketing adalah gap antara produk dengan apa yang sebenarnya diinginkan konsumen”

Michael Brenner

Pada dasarnya, menerbitkan konten setiap hari atau tidak adalah pilihan bebas. Namun perlu diingat bahwa media sosial berbentuk personifikasi. Sebuah brand butuh berinteraksi dengan konsumennya setiap hari secara personal. Ibarat hubungan pertemanan, mereka yang selalu berinteraksi setiap hari biasanya adalah teman-teman akrab. Bahkan jika tidak bisa bertemu, kenyaman akan terganggu dan akhirnya saling mencari satu sama lain.

Di era digital, hampir semua orang memproduksi dan mengkonsumsi konten setiap hari, baik itu perorangan, komunitas, ataupun perusahaan. Kesemuanya memiliki istilah yang kita sebut brand. Jika kita tidak mengeluarkan konten, maka kita bukanlah siapa-siapa dalam skop yang luas.

Tidak semua orang butuh dikenal, maka tidak semua orang butuh mengeluarkan konten. Namun bagaimana dengan brand produk atau jasa. Sulit rasanya berjalan baik jika tidak dikenal.

Itulah mengapa produksi konten secara strategis bisa dikatakan wajib jika sebuah brand ingin dikenal dekat dengan pasarnya secara luas.

- Jangan Annoying ! -

Kembali pada pengibaratan teman. Bagaimana jika teman yang kita temui setiap hari ternyata annoying ? kenal dekat tapi tidak nyaman, itulah pertemanan yang tidak didasari keinginan, seperti kebetulan satu kantor atau satu kelas. Ini juga ibarat praktek branding yang tidak tepat di media sosial.

Bukan hanya kuantitas konten yang terpenting. Konten seperti apa yang dikeluarkan juga tidak kalah pentingnya. Ketika mengeluarkan konten secara rutin, agar tidak membosankan, konten sebaiknya disesuaikan dengan fenomena yang sedang terjadi, kita menyebutnya dengan istilah “riding the wave.”

Saat suatu isu muncul ke permukaan dan menjadi tren, kita bisa menjadikannya sebagai konten untuk menarik atensi. Penggunaan isu seperti ini membutuhkan intuisi tajam untuk kapan mulai dan kapan harus berhenti. Perlu diperhatikan juga agar jangan sampai konten tersebut membawa kepada narasi negatif.

Lebih dari itu, konten menarik yang memberi manfaat nyata untuk audiens dapat memberikan penetrasi yang lebih baik. Sampai pada titik audiens memiliki urgensi untuk terus mengikuti konten yang diterbitkan. Hal ini bisa bersifat mendidik atau menghibur. Sama seperti teman dekat.

- Manajemen Konten Brand -

Biasanya setiap agensi memiliki treatment berbeda-beda dalam merancang strategi branding. Secara garis besar, sebuah perusahaan membutuhkan manajemen yang baik dalam mengeluarkan narasi karena pengaruhnya yang besar terhadap jalannya bisnis.

Bukan hanya narasi dari dalam ke luar, namun reaksi terhadap narasi dari luar juga harus memiliki pakem, ditetapkan sebagai “rule book” yang menjadi acuan agar perusahaan memiliki narasi yang konsisten.

Futurist.id sebagai sebuah agensi brand, membagi konten ke dalam tiga layer yaitu core business, value dan brand activity.

Core business adalah pondasi utama sebuah perusahaan menancapkan brand-nya di benak pasar. Sebagai contoh, dalam media sosial instagram, posisinya berada dalam feed dan biodata. Mungkin audiens mengenal brand dari berbagai cara, namun pada akhirnya bertujuan agar audiens memahami core business perusahaan. Alur pemahaman audiens ini harus dijalankan secara smooth agar tidak timbul resistensi.

Value, adalah jembatan antara brand dengan audiens agar berada dalam satu rasa. Apapun bentuknya baik secara norma, tujuan, harapan, prinsip, dll. Inilah alasan dibalik kedekatan dua pihak secara emosional. Karena, kedekatan emosi memiliki nilai yang lebih tinggi dari sekedar kedekatan fisik. Seperti pepatah “jauh di mata dekat di hati”, memang benar adanya.

Tantangannya adalah bagaimana value ini dapat menyentuh pada insight yang terdalam, bukan hanya bersifat normatif. Hindari pesan-pesan basi dimana tak ada lagi audiens yang peduli, bukan karena pesan tersebut salah, tetapi mediocre memang tidak menarik.

Brand activity, Trigger untuk mengawali perkenalan audiens kepada brand. Menjadi ruang yang paling sibuk, tempat dimana brand bisa show up setiap hari di hadapan audiens. Membutuhkan kreatifitas tinggi karena bukan sekedar repetisi. Sifatnya seperti instagram story yang terus berganti, harus kontekstual menyesuaikan pasar.

Manusia menyukai hal baru dan selalu mencari kebaruan. Menarik konsumen baru dan mempertahankan ketertarikan konsumen lama membutuhkan analisa, strategi dan manajemen yang baik.

Teknologi membantu kita dalam menganalisa dengan menggunakan berbagai tools yang menyediakan detail data pasar. Dari sana agensi kami merumuskan strategi apa yang harus dilakukan untuk membentuk manajemen konten. Hasil penetrasinya akan kembali menjadi analisa data yang dapat dipertanggung jawabkan.


2019: - Ekosistem Kantor Masa Depan -

“Tak ada kekuatan perubahan yang lebih besar dari kekuatan komunitas”

Margaret J. Wheatley

- Sustainabilitas Kantor -

Pada tahun 2011, Steve Jobs mempresentasikan rancangan Apple Campus 2 yang kemudian berganti nama menjadi Apple Park atau dijuluki “The Spaceship”. Meskipun sampai akhir hayatnya ia tak pernah sempat melihat hasil rancangannya tersebut, namun Apple Park tetap dikenal sebagai warisan seorang Steve Jobs untuk inovasi dunia, menjadi bagian dari sejarah kemajuan teknologi.

Kini semakin banyak Perusahaan yang menambahkan fungsi kantornya sebagai kampus, contohnya Google, Reebok, Nike, Sampoerna University, Tempo Institute, dll. Konsep ini diusung sebagai jembatan antara perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Tempat mereka belajar, berinteraksi, melakukan riset dan pengembangan, serta yang terpenting, membuat “impact”.

Kembali pada awal 90an, konsep desain kantor mulanya adalah kubikal, karena bisnis pada masa itu sangat bergantung pada tingkat kerja manusia secara operasional. Produktifitas manusia menjadi backbone perusahaan dalam mengejar profit. Konsep kubikal ini mendorong karyawan untuk fokus. Namun sayangnya menjadikan mereka minim interaksi.

Seiring berjalannya waktu, terjadi fenomena booming perusahaan dotcom (perusahaan yang berjalan dengan roda internet). Merekalah yang mempopulerkan perubahan konsep kubikal menjadi open office. Kerja manusia secara operasional mulai tergantikan oleh teknologi, manusia lebih dituntut untuk melakukan inovasi.

Mereka yang bekerja untuk menciptakan inovasi, membutuhkan banyak diskusi, baik di bidang teknologi, perdagangan, organisasi, dll. Konsep open office dirancang untuk melancarkan pola interaksi tersebut. Membebaskan karyawan bekerja di sudut manapun yang mereka inginkan, dengan desain ruang yang nyaman untuk diskusi grup sekitar 4 - 5 orang.

Akhirnya kantor tidak lagi sekedar menjadi tempat mencari uang, namun juga menjadi tempat belajar dan memperluas jaringan. Berbagai fasilitas pengembangan diri seringkali juga menjadi beban moral bagi seorang karyawan untuk berlaku tidak loyal.

Dengan dibukanya kantor sebagai kampus, tingkat loyalitas ini pun menular ke masyarakat yang sebenarnya bukan karyawan. Ia membuka kesempatan untuk menampung beragam komunitas masuk ke dalam lingkungan kantor. Menjadi bukti tanggung jawab perusahaan di bidang sosial.

Nilai semangat tersebut pun juga disiarkan secara lebih luas dengan produksi konten yang menarik. Dengan pendistribusian yang strategis, mereka membangun branding "perusahaan yang memberi impact”.

- Transparansi Meningkatkan Trust -

Masa depan bisnis diprediksi akan berporos pada pengembangan komunitas, maka pada aplikasinya kantor membuka diri agar orang dapat melihat komunitas di balik layar perusahaan. Tujuannya adalah untuk pendistribusian nilai semangat yang mereka miliki.

Apakah anda ingat ada stasiun TV yang mempertontonkan aktivitas di dalam kantornya dengan sebuah serial drama ? Ada lagi yang lebih menjadi tren dunia, yaitu serial realita tentang pemimpin perusahaan dalam kesehariannya menjalankan bisnis, hingga terbangun fanbase yang bahkan melebihi aktor atau penyanyi.

Pertanyaannya, bagaimana menghidupkan ekosistem tersebut agar diterima pasar dengan baik ? bahkan membuat banyak orang ingin sekali bekerja di sana.

Di sinilah agensi brand banyak berperan. Terlebih untuk perusahaan yang sangat serius dengan citra kantornya, melakukan eksekusi kampanye dengan baik dan benar.

Serangkaian aktivasi harus dilakukan. Mulai dari peningkatan fasilitas, community development, pembuatan konten hingga distribusinya di media sosial. Video secara reguler dapat disiarkan di Youtube. Berbagai Aktivasi lain diunggah melalui Facebook, Twitter, Instagram dan Linkedin. Satu syaratnya agar diminati untuk disimak adalah konten harus menarik.

Sebuah brand perusahaan yang sudah berhasil menjadi validasi nilai di masyarakat, tidak hanya bermanfaat untuk konsumen. Brand kantor misalnya, ia juga bisa menjadi kebanggaan untuk para karyawannya yang bekerja di sana, pada semua level.

Transparansi ini juga sangat baik sebagai media edukasi untuk bisnis B2B memahami perusahaan rekanan. Mengubah alur penjualan dari mencari klien menjadi dicari klien. Seiring dengan perubahan habit masyarakat yang selalu browsing tiap kali membutuhkan sesuatu. Mereka mempelajari lebih dalam melalui konten, sebelum memutuskan melakukan pembelian ataupun melakukan kerja sama. Melalui konten, konsumen atau klien dapat mendapatkan adanya kepastian dari produk atau jasa yang akan mereka gunakan.

2019: - Bersosial Bukan Beriklan -

“We don’t have a choice whether we do social media,
the question is how well do it.”

Erik Qualman

Media sosial lahir dan menjadi kelaziman bahkan ketergantungan manusia dalam bercerita dan menyimak. Hal itu sejalan dengan prediksi para pakar bahwa media masa depan akan semakin interaktif. Terbukti media sosial mampu mendorong berbagai isu dan gagasan menjadi populer (viral) melebihi kemampuan media konvensional.

Kekuatan media sosial dalam menarik atensi audiens ini tidak boleh disia-siakan oleh perusahaan untuk menancapkan eksistensinya di benak konsumen. Sebagai pertimbangan, Berbeda dengan media konvensional, media sosial dengan penggunanya yang besar dapat diakses di manapun dan kapanpun baik secara aktif atau pasif.

Tantangannya adalah, dalam me-manage struktur sosial yang liar di media sosial, perlu kejelian dan insting untuk menyusun tools yang ada, sehingga pesan dapat diterima dengan baik.

- Metode membangun karakter perusahaan melalui media sosial -

Salah satu metodologi yang terbukti efektif adalah AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share). Metodologi ini dipercaya telah menjadi behaviour manusia dalam mengambil keputusan pembelian. Kini, media sosial memiliki peran sangat penting dalam mengakomodir semua tahapan AISAS tersebut.

Ia menjadi corong untuk menarik atensi (Attention) konsumen akan produk, layanan, atau iklan hingga menimbulkan ketertarikan (Interest). Daya tarik ini memunculkan keinginan untuk mengumpulkan informasi (Search) tentang barang tersebut. Konsumen kemudian membuat penilaian secara keseluruhan berdasarkan informasi yang dikumpulkan, lalu membuat sebuah keputusan untuk melakukan pembelian (Action). Setelah pembelian, konsumen menjadi penyampai informasi dengan berbicara pada orang lain melalui komentar dan tayangan lain di Internet (Sharing).

Agar audiens tertarik untuk memberikan atensinya dan terus menggali, dibutuhkan adanya trigger di setiap tahapan. Trigger dengan pengolahan cerita atau narasi yang terstruktur di media sosial menjadi metode yang efektif untuk menjaga ketertarikan audiens.

Apapun bidangnya, semua memiliki cerita. Lebih dari sekedar meraih simpatik, cerita yang dengan tepat melibatkan emosi akan membangkitkan vibrasi positif audiens. Akhirnya membuat audiens setuju dengan ide-ide yang ditawarkan.

Cerita juga lebih mudah diingat dibandingkan dengan deskripsi lainnya. Ia membangun konteks untuk gagasan yang akan diangkat, bukan secara serta merta. Menjadikannya sarana yang efektif agar subjek atau objek mudah dikenal dan diingat untuk waktu lama.

- Kesuksesan Maersk Line Membangun Personal di Media Sosial -

Maersk Line, sebuah perusahaan logistik global dimana salah satu pengiriman tersulitnya adalah melewati laut Baltic, menceritakan kesulitannya melewati bagian laut tersebut yang terhalang cuaca dingin ekstrim.

Melalui media sosial mereka mengunggah foto-foto yang menggambarkan kesulitan itu sebagai trigger. Kampanye media sosial ini dilakukan untuk memancing konsumen potensialnya melihat kehandalan mereka dalam mengantarkan kargo dengan ketepatan waktu walaupun dalam kondisi sulit.

Hasil awalnya adalah 150 leads unik (merupakan jumlah yang banyak di sektor bisnis). Maersk Line terus melanjutkan kampanye tersebut dengan foto-foto operasi dan semangat untuk berinteraksi. Kesuksesan Maersk Line dalam media sosial terus meningkat hingga menghasilkan lebih dari tiga juta pengikut Facebook, seratus dua puluh ribu lebih pengikut Twitter dan seratus lima puluh ribu lebih pengikut Linkedin.

Kampanye ini menyadarkan Maersk Line untuk terus mengorganisir media sosial mereka secara global.

Alasan dibalik penggunaan pendekatan yang sederhana ini adalah mereka merasa bahwa cerita Maersk Line tersebut memiliki gambar yang powerful dan relevan untuk menjangkau lebih banyak audiens. Mereka juga sangat ingin memperluas jaringan pertemanan yang berpotensi menjadi pelanggan. Kampanye media sosial ini pun ternyata dinilai menurunkan biaya promosi.



 

 

 

No record found.

 

 

 

 

No record found.

 

 

 

Anda harus login terlebih dahulu untuk melihat data ini.

You must login first to see this data.

 

 


Live Chat